Pesta Penyair Jelang HPI ke-5

FB_IMG_1500898040902-001

Oleh: Iman Sembada, penyair dan pegiat literasi.

Puncak perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2017 akan diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, pada awal bulan Oktober mendatang, tapi semangat pesta perayaan itu sudah menggema dari saat ini. Hampir di setiap provinsi, dari Sabang sampai Merauke, sudah digelar perayaan-perayaan itu. Perayaan yang diisi dengan diskusi sastra, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, penerbitan antologi puisi, dan orasi kebudayaan.

Semangat menyambut HPI ini patut diapresiasi dan diacungi jempol. Kota-kota yang sebelumnya tak terdengar gaung puisi, kini begitu berantusias menggelar acara-acara pembacaan puisi. Misalnya, di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Apalagi kota yang sudah memiliki tradisi mengadakan pembacaan puisi, seperti Jakarta, Jambi, Riau, Bali, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Padang, Banten, Tangerang Selatan, dan lainnya, tak mau kalah dengan kota lain. Para penyair, pelaku sastra yang selama ini bergerak melalui komunitas-komunitas sastra makin bersemangat mengumandangkan syair-syair puisi.

Apa sih peran penting puisi? Apa sih kontribusi puisi bagi bangsa Indonesia? Untuk apa pula harus ada hari nasional untuk perayaan puisi? Acapkali muncul pertanyaan semacam itu. Puisi bukan cabai atau sambal yang jika dimakan segera terasa pedasnya, tapi puisi tidak seperti itu. Puisi bicara dengan metafora-metafora, idiom-idiom, simbol-simbol yang terkadang tidak semua orang paham. Puisi berbicara dengan bahasa yang subtil, halus. Untuk bisa memahami sebuah puisi, mesti membacanya berulang kali. Dengan puisi, hikayat, dan syair-syair lagu sanggup mengobarkan semangat rakyat Indonesia dalam perjuangan melawan penjajah. Hal ini tentu saja tidak bisa dipungkiri. Dari panggung-panggung itu telah dibacakan ratusan atau bahkan ribuan puisi.

Panggung-panggung itu tidak hanya untuk penampilan para penyair saja, melainkan juga untuk masyarakat, pelajar, mahasiswa, guru, pengusaha, politisi dan profesi lainnya yang ingin berpartisipasi. Perayaan ini bermaksud untuk mengenalkan atau mengakrabkan kembali puisi kepada masyarakat. Selama ini ada anggapan bahwa puisi adalah dunia asing yang terpencil. Dunia yang sunyi. Seakan-akan yang bukan penyair “dilarang masuk”.

Perayaan HPI tahun ini merupakan yang ke-5. HPI sendiri dideklarasikan oleh penyair-penyair senior Indonesia. Teks deklarasi dibacakan oleh presiden penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri pada Puncak Musyawarah Penyair Indonesia I di Riau, 22 November 2012. Dalam teks deklarasi itu diterangkan bahwa tanggal kelahiran Chairil Anwar, 26 Juli ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia. Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita punya hari puisi nasional yang menjadi sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern.

Kita patut bergembira, perayaan HPI ini dirayakan di banyak kota di Indonesia. Ini merupakan kesadaran kolektif bahwa kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan dunia yang harus dijaga dan dihidupi. Tentu para pelajar, mahasiswa atau guru dan dosen ingin tahu pula penyair-penyair dari kotanya. Tentu kepuasan tersendiri bagi penyairnya, dengan tidak bermaksud menjadi jumawa.

Pihak-pihak, dalam hal ini pemerintah tentunya, melalui departemen atau dinas terkait harus merespon positif semarak perayaan HPI. Memang sudah terlalu banyak hari nasional di Indonesia. Tapi HPI patut ada, HPI harusnya menjadi kebanggaan kita bersama. HPI didasari spirit Sumpah Pemuda yang menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan. Tanpa bahasa nasional, tentu saja tidak mudah untuk mempersatukan beratus-ratus suku dan bahasa yang berada di beribu-ribu pulau di Indonesia.

Selamat berpesta kata-kata. Selamat merayakan puisi. Sampai berjumpasua pada puncak perayaan HPI di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Depok, 3 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *