Sastra dan Perubahan Ekologis Anak Bangsa

20140623_Pengajian_Sastra_FLP_1-001

JAKARTA (Tangselone.com) – Sastra berperan strategis dalam mempengaruhi jalan cerita sejarah sebuah bangsa. Penjelasan tersebut dikemas dalam tema Buku, Puisi, dan Kebangkitan Nasional yang didiskusikan pada pengajian sastra, Minggu (21/5/2017).

Pengajian sastra merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan tiga bulan sekali oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jakarta Raya. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan FLP cabang se-Jakarta Raya, yakni FLP Bogor, FLP Bekasi, FLP Depok, dan FLP Jakarta.

Pengajian sastra dimeriahkan oleh Kurnia Effendi, pegiat sastra dari Komunitas Sastra Indonesia. Kurnia Effendi yang kerap disapa Kef menjelaskan peranan dan korelasi antara komunitas literasi, sastra, dan kebangkitan nasional.

“Komunitas ini bisa menjadi pasar yang sangat strategis untuk karya yang kita ciptakan. Pegang terus prinsip kebaikan yg jadi komitmen kita dan komunitas. Penulis dan komunitas itu saling membesarkan, saling memberi keuntungan,” tegas Kef.

Kef berpesan kepada anggota FLP untuk tetap konsisten menulis. “Tulislah sesuatu yang mampu mengubah dunia. Bergerak sekecil apa pun itu. Tumbuh dan berkembanglah. Mengangkat budaya daerah atau kearifan lokal yang kemudian di dalamnya tersampaikan nilai-nilai atau norma dalam bentuk karya.”

“Itulah peranan dan tugas komunitas literasi. Menangkap fenomena di sekitar dan menjadikannya dalam bentuk sastra. Hal tersebut dapat dijadikan senjata untuk menetralisir kecerdasan ekologis anak bangsa,” terangnya.

Menurutnya, karya sastra berpengaruh untuk mengubah suatu keadaan menjadi sebuah sejarah agar tidak hilang begitu saja. Meski keadaan berubah, karya sastra akan menjaga warisan sejarah sehingga ada rekam jejak yang dapat dipelajari oleh generasi selanjutnya.

“Generasi muda sekarang bisa meniru cara membaca seperti di pesantren, satu hari satu halaman. Hal ini bisa dicoba untuk meningkatkan budaya membaca khusunya pada anak-anak.” tambah Mirza Ahmad Herviko, perwakilan Balai Pustaka.

Produk Nyata Ilmu Sastra

Pada sesi diskusi, salah satu peserta melontarkan pertanyaan mengenai apa yang dihasilkan sastra bila dibandingkan dengan ilmu sains yang produk fisiknya dapat terlihat.

“Jika arsitek berkarya dan menghasilkan bangunan megah yang kemudian menjadi sejarah, lalu bagaimana dengan hasil dari sastra?”

“Jangan risau. Jika hasil karya arsitek adalah bangunan megah, maka sastra adalah ruh, rasa yang dapat mengubah kerusuhan menjadi perdamaian. Sastra itu kelembutan yang mampu mengubah kemungkaran,” jawab Sudianto.

“Maka ciptakan karya sastra yang bagus. Kalau ingin menulis yang bagus, maka bacalah buku yang bagus,” tambah Kef.

Parade Puisi

Sebelum acara ditutup, para peserta dan pengisi acara melakukan parade baca puisi sebagai bentuk partisipasi dan dukungan terhadap Kebangkitan Nasional.

Puisi dibaca bergilir. Ada yang membacakan puisi buatan pribadi maupun karya sastrawan Chairil Anwar.

“Saya hendak membacakan puisi tentang kopi. Biasanya orang-orang saling membanggakan kopi dari daerahnya masing-masing. Saya coba untuk menyatukan semua kenikmatan kopi itu,” tegas Kef sebelum membacakan puisi kopi karyanya.(R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *