Seniman Berharap Eks Pendopo Gubernur Jadi Taman Budaya Banten

img-20160904-wa0023-001-001

SERANG (Tangselone) – Ketua Dewan Kesenian Banten (DKB) Chavcay Syaifullah seperti sebal atau geram karena menunggu kepastian penetapan Taman Budaya Banten oleh Gubernur Banten Rano Karno yang belum juga tiba. Sementara tahun 2017 sudah akan digelar Pilgub Banten. Itu artinya, masa kepemimpinan Rano tinggal sedikit lagi.

Bila Rano tidak terpilih dalam pilgub nanti, maka proses penetapan Taman Budaya Banten harus dimulai dari nol kembali, dengan melakukan pendekatan kepada pemimpin baru. Pada situasi ini sikap sebal dan geregetan Chavcay bisa dipahami.

Chavcay mengatakan bahwa sejak dilantik sebagai pengurus DKB tahun lalu pihaknya sudah menyampaikan aspirasi pembangunan Taman Budaya Banten kepada Rano Karno yang melantiknya. Kompleks eks Pendopo Gubernur Banten menurutnya sangat cocok dijadikan sebagai Taman Budaya Banten.

Selain memiliki nilai estetika dan sejarah, tempat ini juga berada di pusat kota. Keberadaaan sebuah taman budaya Banten menurutnya memang harus ada di tengah kota agar mudah diakses masyarakat. “Bila sudah ditetapkan, maka tidak boleh ada aktivitas lain selain kebudayaan, termasuk politik,” kata Chavcay seperti dikutip www.bantenraya.com.

Chavcay mengatakan bahwa kegiatan Banten Gawe Art 2016 yang digelar pekan lalu merupakan salah satu kegiatan untuk mengingatkan atau membujuk Rano Karno agar segera menerbitkan surat keputusan gubernur guna menetapkan kompleks eks Pendopo Gubernur Banten menjadi Taman Budaya Banten.

Masih banyak tugas yang harus dilakukan oleh Dewan Kesenian Banten, misalkan mendirikan gedung kesenian, mendirikan institut kesenian Banten, dan lainnya. Karena itu, diperlukan Taman Budaya Banten secepatnya untuk menjadi lokasi berkumpulnya para seniman. “Sudah 15 tahun kita tidak punya ruang publik untuk berkumpul para seniman,” katanya.

Chavcay menyatakan bahwa dengan adanya Taman Budaya Banten maka semua seniman dapat berkumpul sehingga akan menjadi ruang publik kesenian dan kebudayaan di Banten. Sementara selama ini kegiatan-kegiatan kesenian seperti tidak memiliki lokasi tetap. “Rano Karno sebelum lengser harus segera menetapkan kompleks eks Pendopo Gubernur Banten sebagai Taman Budaya Banten,” katanya.

Toto ST Radik, salah satu sastrawan Banten, menyetujui usulan kompleks eks Pendopo Gubernur Banten sebagai Taman Budaya Banten. Menurutnya akan bagus bila kompleks eks Pendopo Gubernur Banten dijadikan Taman Budaya Banten, apalagi bangunan utama telah ditetapkan sebagai Museum Negeri Banten. Sehingga aktivitas di kompleks tersebut seluruhnya adalah aktivitas kebudayaan. “Apalagi perkantoran kan sudah pindah semua ke KP3B,” katanya.

Toto mengatakan bahwa keberadaan taman budaya sangat penting bagi sebuah provinsi. Apalagi undang-undang mengharuskan adanya taman budaya sebagai pelengkap sebuah provinsi. Pertimbangan seniman dan budayawan mengusulkan kompleks eks Pendopo Gubernur Banten sebagai Taman Budaya Banten salah satunya adalah persoalan efisiensi. “Kalau bangun dari awal kan biayanya mahal,” ujarnya.

Toto mengungkapkan bahwa keinginan mendirikan Taman Budaya Banten sebetulnya sudah mencuat sejak pertama kali Provinsi Banten berdiri. Saat itu telah ada pula desakan dari seniman dan budayawan agar Taman Budaya Banten segera dibangun oleh Djoko Munandar dan Ratu Atut Chosiyah selaku Gubernur dan Wakil Gubernur Banten pertama.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banten saat itu pun telah menggelar seminar, membuat detail engineering design, bahkan maket Taman Budaya Banten. Tapi sampai saat ini pembangunan Taman Budaya Banten masih belum terwujud. Dahulu lokasi Taman Budaya Banten diusulkan dibangun di KP3B. “Sudah sangat lama keinginan pendirian Taman Budaya Banten ini,” katanya.(R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *