Jaker 2016 Memperkuat Kebudayaan Nasional

IMG-20160827-WA0024-001

JAKARTA (Tangselone) – Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) didirikan pada tahun 1993 oleh beberapa pekerja seni dan budaya, salah satunya oleh Wiji Thukul, sebagai wadah bagi para pekerja seni dan budaya yang mempunyai keberpihakan atas nasib rakyat.

JAKER lahir sebagai hasil pergulatan sejarah pada saat krisis ekonomi dan politik yang berdampak secara langsung kepada rakyat dan pekerja seni budaya. Di bawah ancaman represi, muncul kesadaran para pekerja seni dan budaya untuk membangun wadah perlawanan sambil terus menyuarakan persatuan.

Para pekerja seni dan budaya yang sebenarnya berperan penting dalam pembangunan karakter bangsa lewat misi kebudayaan ternyata sampai saat ini belum mendapatkan panggung di tengah bangsa yang sedang kehilangan jati diri. Setelah kemerdekaan diproklamasikan sampai sekarang, cita-cita TRISAKSI, khususnya berkepribadian dalam kebudayaan belum terwujud.

Di usianya yang sudah 23 tahun ini, JAKER melaksanakan Konferensi Nasional 2016 dari tanggal 27 – 28 Agustus bertempat di Danysa Guest House jln Tebet Dalam II H no 5
Tebet Barat – Jakarta Selatan; mengambil tema: Memperkuat Kebudayaan Nasional, Menangkan Tri Sakti yaitu memenangkan kedaulatan politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

“Kami melihat bahwa saat ini kebudayaan nasional masih sangat lemah sehingga kita sebagai bangsa seperti tidak memiliki jati diri yang jelas. Narasi kebangsaan seperti cinta tanah air beserta seni-budayanya yang beraneka-ragam dan jiwa gotong-royong, bahu-membahu membangun bangsa yang adil dan makmur semakin terpinggirkan oleh narasi asing yang mementingkan diri sendiri dan kelompok. Oleh karena itu kami ingin mengajak kepada seluruh elemen bangsa terutama para pekerja seni dan budaya untuk bersama-sama memperkuat kebudayaan nasional kita, dalam artian, kita mempertegas kembali: apa yang menjadi budaya nasional kita dan kemudian kita akan menggunakan kebudayaan nasional itu untuk memenangkan cita-cita TRISAKTI,” kata Suroso, Sekretaris Jendral Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat yang juga bertindak sebagai ketua OC dalam hajatan konferensi nasional ini. Lebih jauh Suroso, yang pernah merasakan penjara Orde Baru karena dituduh terlibat peristiwa 27 Juli 1996 mengatakan bahwa sebenarnya kita sudah memiliki kepribadian dalam budaya. Seharusnya kita tidak malu untuk menunjukkan budaya kita tersebut. Namun saat ini  sepertinya budaya kita sudah tergerus oleh budaya luar yang begitu kuatnya masuk ke Negeri kita sehingga kita seperti tidak memiliki akar budaya lagi. Inilah yang harus kita lakukan: kembali mempertegas jati diri kita, budaya kita, dan bersama-sama kita harus memperkuatnya agar kita mampu memenangkan pertarungan dengan budaya luar yang begitu massif masuk sampai ke pelosok desa.

Tejo Priyono, Ketua JAKER menambahkan bahwa Perkembangan globalisasi yang juga disertai dengan perkembangan teknologi informasi dan pasar bebas, membawa imbas terhadap para pekerja seni dan budaya.

“Kita hanya diberi pilihan: bertahan agar tetap survive atau dilibas geraknya,” katanya.

Sementara itu AJ Susmana, sebagai Ketua SC Konfernas dan pernah menjabat sebagai Sekretaris JAKER periode 1994 sampai peristiwa 27 Juli 1996 ketika Wiji Thukul sebagai Ketua JAKER menyatakan bahwa kebudayaan harus dipandang sebagai kekuatan dan tidak boleh absen dalam membangun bangsa; terutama dalam revolusi mental. “Dengan nilai dan semangat gotong royong yang telah mengakar dalam budaya rakyat itulah, kita dapat menyusun kebudayaan nasional yang tangguh dan bermartabat sekaligus terus-menerus memperkuat kedaulatan nasional dan membangun perekonomian nasional yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat!”

Untuk diketahui, konferensi nasional JAKER berlangsung dua hari. Pada hari pertama 27 Agustus, dilangsungkan diskusi merumuskan strategi dan taktik kebudayaan dalam membangun bangsa: bagaimana memperkuat kebudayaan nasional dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Agustus 1945. Misalnya melalui gerakan literasi dan pendidikan, termasuk workshop seni dan budaya. Di bidang Organisasi mengemuka wacana untuk Merekomendasikan Wiji Thukul sebagai Ketua Umum dalam kongres mendatang; Mendirikan Institute Wiji Thukul untuk pendidikan sosial dan kebudayaan dan terlibat aktif dalam pencarian Wiji Thukul dan mendesak Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk mencari dan menjelaskan keberadaan Wiji Thukul yang hilang di sekitar peristiwa 1998. JAKER juga akan turut mendorong pendirian koperasi sebagai jalan kemandirian nasional.

Pada hari kedua, Konferensi Nasional JAKER akan ditutup dengan Panggung Kebudayaan Rakyat di Kedai kopi damarbhumi, jalan Sawo kecik raya no 2A kel. Bukit Duri – Tebet- Jakarta Selatan. Demikian penjelasan Suroso, ketua Panitia, Konfernas JAKER 2016.(R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *