Ahmadun Yosi Herfanda Lahirkan Dua Buku Puisi Baru

ahmadun dua buku puisi

PAMULAG (TangselOne) – Buku kumpulan puisi baru karya Ahmadun Yosi Herfanda, berjudul Ketika Rumputan Bertemu Tuhan sudah beredar di pasar buku indie, menyusul buku Dari Negeri Daun Gugur karya penyair yang sama. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh Pustaka Littera yang berada di bawah Yayasan Kreativa Indonesia. Buku Ketika Rumputan Bertemu Tuhan diterbitkan pada Juli 2016. Buku setebal 136 + viii halaman itu berisi 125 puisi. “Buku itu terdiri dari dua bagian yakni Sembahyang Rumputan dan Ciuman Pertama untuk Tuhan,” tutur Ahmadun.

Dalam buku itu, pembaca disuguhi salah satu puisi Ahmadun yang sangat terkenal yakni “Sembahyang Rumputan”. Tadinya buku itu direncanakan akan diluncurkan dalam Temu Penyair Nusantara di Meulaboh, Aceh Barat, pada 27-30 Agustus 2016. Namun, karena pada saat bersamaan Ahmadun diminta menjadi juri sebuah lomba puisi tingkat nasional di Manado, ia tidak bisa ke Meulaboh. “Ternyata acara di Manado dan Meulaboh itu hampir bersamaan,” ujarnya lagi.

Adapun buku puisi Dari Negeri Daun Gugur adalah hasil cetak ulang. Terbitan pertama buku ini pada Oktober 2015, dan cetakan kedua pada Juli 2016. Buku setebal 100+vi halaman itu berisi 69 puisi. Buku ini terdiri dari tiga bagian yakni Tafakur Daun, Resonansi Sejenjang Leher dan Dari Negeri Daun Gugur. Buku itu sempat diluncurkan ulang dan didiskusikan dalam Temu Penyair 8 Negara di Banda Aceh pada Agustus lalu.

Ahmadun Yosi Herfanda atau juga sering dituis dengan Ahmadun Y. Herfanda lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1958. Mantan Redaktur Sastra Harian Republika ini kini sehari-hari menjadi dosen menulis kreatif di Universitas Multimedia Nusantara, Serpong. Ia dikenal sebagai penyair yang banyak menulis sajak-sajak relegius. Di samping itu, ia juga menulis cerpen, esai, dan kritik sastra.

Bukunya yang telah terbit seperti Ladang Hijau (Eska Publishing, 1980), Sang Matahari (kumpulan puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, Nusa Indah, Ende, 1984), Syair Istirah (bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, Masyarakat Poetika Indonesia, 1986), Sajak Penari (kumpulan puisi, Masyarakat Poetika Indonesia, 1990), Sebelum Tertawa Dilarang (kumpulan cerpen, Balai Pustaka, 1997), Fragmen-fragmen Kekalahan (kumpulan sajak, Forum Sastra Bandung, 1997), dan Sembahyang Rumputan (kumpulan puisi, Bentang Budaya, 1997).

Buku Ahmadun lainnya adalah Ciuman Pertama untuk Tuhan (kumpulan puisi, bilingual, Logung Pustaka, 2004), Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (kumpulan cerpen, Bening Publishing, 2004), Badai Laut Biru (kumpulan cerpen, Senayan Abadi Publishing, 2004), The Warshipping Grass (kumpulan puisi bilingual, Bening Publishing, 2005), Resonansi Indonesia (kumpulan sajak sosial, Jakarta Publishing House, 2006), Koridor yang Terbelah (kumpulan esei sastra, Jakarta Publishing House, 2006), Yang Muda yang Membaca (buku esai panjang, Kemenegpora RI, 2009), dan Sajadah Kata (kumpulan puisi, Pustaka Littera, 2013).

Ia tinggal di sebuah perumahan di Pamulang, Tangerang Selatan, sambil mengelola sebuah kafe dan memfasilitasi anak-anak muda belajar jurnalistik lewat media online tangselone.com dan depokone.com. Bersama sejumlah sastrawan, ia juga mendirikan portal sastra Litera.co.id, dan majalah bahasa sembahyangrumputan.com. [R]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *