Majalah Sastra Horison Berhenti Cetak, Bermigrasi ke Online

taufiq-ismail-_140121154401-554

JAKARTA (Tangselone) – Majalah Sastra Horison banyak memunculkan nama-nama yang kini menjadi sastrawan terkenal. Kiprahnya selama ini sangat signifikan, khususnya bagi seniman, pencinta atau pemerhati kesenian, keberadaan majalah sastra tersebut dinilai salah satu tolak ukur perkembangan dan pertumbuhan sastra Indonesia.

Sayangnya, memasuki usianya yang setengah abad, Majalah Horison akhirnya tak lagi menerbitkan edisi cetaknya. Hal itu disampaikan redaktur senior Majalah Sastra Horison, Taufiq Ismail, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Penyair angkatan 66 itu menjelaskan, Majalah Horison akan sepenuhnya bermigrasi ke platform daring (online) sejak hari ini.

“Seirama dengan perkembangan teknologi masa kini, maka Horison cetak beralih ke online mulai hari ini. Biaya untuk penerbitan cetak itu cukup besar. Tapi, kalau dijadikan online, biaya tak sedemikian besar,” kata Taufiq Ismail di hadapan sekitar 300 peserta acara peringatan 50 Tahun Majalah Sastra Horison di TIM, Cikini, Jakarta, Selasa (26/7/2016) seperti dikutip Republika.co.id.

Taufiq menambahkan, Horison Online sudah dipersiapkan sejak 2010 oleh tokoh akademisi sastra Melayu, almarhum Prof Amin Sweeney. Lamannya akan beralamat di http://horisononline.or.id//.

Selain Taufiq Ismail dan akademisi senior Arief Budiman, para pendiri Majalah Sastra Horison yakni jurnalis kawakan Mochtar Lubis, pelukis Zaini, dan tokoh pers nasional PK Ojong. Ketiganya yang tersebut terakhir sudah meninggal dunia.

Menurut Taufiq, perjuangan untuk rutin menerbitkan majalah sastra bulanan bukanlah upaya yang mudah. Selama 50 tahun belakangan ini, tutur dia, semua pihak baik individu maupun korporasi yang mencintai sastra Indonesia tidak putus-putusnya membantu Horison.

“Saya sebagai salah satu pendiri Horison luar biasa terharu. Rasa terima kasih kami kepada Anda sekalian. Terima kasih. Terima kasih. Semoga Allah membalas budi baik Anda sekalian. Amin,” ucapnya.

Acara ini dihadiri para tokoh nasional, antara lain mantan menteri Emil Salim dan Wardiman Djojonegoro, serta wakil ketua DPR Fadli Zon. Kemudian, sejumlah seniman, seperti Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, Danarto, Toeti Herati, dan Ajip Rosidi.

“Alhamdulillah. Ini adalah majalah sastra yang boleh dikatakan satu-satunya di Indonesia yang masih bisa bertahan 50 tahun. Di dalam tataran dunia, Horison termasuk majalah sastra yang senior,” ucap Taufiq Ismail.(R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *