Mungkinkah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi Dicabut?

nasional-persis-dukung-petisi-pencabutan-nobel-perdamaian-aung-san-suu-kyi-1225-l

TANGSELONE.com – “Terima kasih atas dukungannya terhadap petisi ini,” tulis Emerson Yuntho di Change.org . Seperti yang kita ketahui, 7 hari lalu muncul sejumlah pro dan kontra terkait pencabutan Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi karena mengungkapkan kata rasis kepada seorang wartawan muslim yang mewawancarainya. Dukungan pencabutan Nobel Perdamaian ini sudah mencapai 34 ribu lebih sejak digulirkan pada 28 Maret 2016 oleh aktivis Perdamaian di Indonesia.

Mungkinkah Pencabutan Nobel ini dapat dilakukan secara fair oleh Komite Perdamaian di Norwegia? Tidak ada yang mustahil jika kita merujuk pada kasus yang pernah terjadi. Misalnya pada tahun 2012, Badan Balap Sepeda Internasional mencabut tujuh gelar juara bergengsi Tour De France yang pernah diraih seorang pembalap Amerika, Lance Amstrong. Pencabutan gelar ini lantaran Amstrong terbukti menggunakan doping sepanjang karirnya bersepeda. Tidak hanya kehilangan gelar, Amstrong juga harus mengembalikan bonus jutaan dollar yang pernah diterimanya dari pihak sponsor.



Kasus di atas juga dialamai oleh salah seorang Perancang Inggris John Galliano, yang juga kehilangan tanda penghargaan paling terhormat di Perancis, Legion d’Honneur pada tahun 2012. Keputusan pencabutan gelar yang dilakukan oleh Presiden Perancis Francois Hollande dilakukan karena Galliano terbukti bersalah mengeluarkan pernyataan antisemit pada tahun 2010 dan 2011. Galliano juga kehilangan pekerjaaanya sebagai Direktur di rumah mode yang terkenal di Perancis, Dior.

Tidak saja Nobel Perdamaian, gelar kehormatan lain juga bisa saja dicabut jika seseorang terbukti telah melakukan penghinaan atau berkata rasis. Apalagi orang tersebut adalah kandidat Presiden atau orang yang paling berpengaruh. Seperti Donald Trump misalnya. Penghargaan kehormatan yang pernah didapatkannya dari Universitas Aberden Skotlandia itu dicabut karena pernyataannya yang bersifat rasis dengan melarang warga muslim memasuki Amerika Serikat. Dampaknya tidak saja pencabutan gelar doktor yang didapatkan Trupm dalam bidang adminitrasi bisnis, tapi juga hukuman sosial dari 350 ribu petisi yang dibuat oleh warga Inggris yang melarang Trump mengunjungi negara tersebut.

Sejumlah pertimbangan inilah yang pada akhirnya menjadi pertimbangan dasar sejumlah individu di Indonesia untuk membuat petisi online change.org dan meminta Ketua Komite Nobel untuk segera mencabut Nobel Perdamaian yang diberikan untuk Suu Kyi.

Petisi yang telah ditandatangin oleh 34 ribu warga dari sejumlah negara ini patut menjadi perhatian serius Komite Perdamaian di Norwegia dalam menyelamatkan kesucian Nobel Perdamaian. Jika terbukti benar adanya penyataan rasis yang dikeluarkan Suu Kyi, sudah pula sepantasnya ia mengembalikan Nobel tersebut kepada Komite dan mengembalikan hal-hal lain yang pernah ia dapatkan saat menerima penghargaan Perdamaian. Harus disadari bahwa Nobel Perdamaian haya pantas diberikan kepada orang-orang yang benar-benar menjaga kesucian Perdamaian tersebut.

PILO POLY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *