Impian Sekolah

ilustrasi sketsa -- foto-repro-kompasiana

OLEH: DIANING WIDYA | @dianingwy | puitika.com.

LAMA tak bertemu Mbak In bikin aku kangen. Akhir-akhir ini mbak In disibukkan oleh usahanya membuka perpustakaan di berbagai tempat. Mbak In memang gemar membaca dan selalu berusaha menularkan kegemarannya kepada orang lain, terutama anak-anak usia sekolah. Dari taman kanak-kanak hingga SMU.




Saya dengar perpustakaan yang hendak ia buka ada di kawasan orang-orang yang kurang beruntung. Mbak In tak sayang mengeluarkan dana untuk pembangunan perpustakaan, membeli buuku dan sarana lainnya. Dia akan menemukan kebahagiaan tak ternilai jika perpustakaannya ramai dikunjungi anak-anak kurang mampu.
“Rasanya surga ada dalam genggamanku Jeng kalau lihat anak-anak itu membaca di perpustakaan. Wajah mereka Jeng, meneduhkan.” Begitu ujar Mbak In suatu ketika.
Aku terhanyut oleh ucapannya. Aku mengangguk-angguk sendiri. Aku pandangi bunga-bunga dalam pot yang terjajar tak beraturan di seberang rumah. Ketidak beraturan pot-pot itu justru enak dilihat. Aku pandangi terus bunga-bunga dalam pot itu, hingga detak jantungku serasa berhenti sejenak. Nafasku tersengal meski sesaat.
“Mbak In,” aku sedikit berteriak.
Aku menautkan kening. Wajah Mbak tanpa ekspresi. Ia hanya memandangku sejenak lalu jalan sambil menunduk menuju rumahku. Hal seperti itu ciri khas Mbak In jika tengah memendam sesuatu. Di ambang pintu, Mbak In mengucap salam dengan suara lirih. Lirih juga aku membalas salamnya. Aku terbawa oleh raut mukanya yang mendung.
“Aku boleh duduk nggak Jeng.”
“Ya boleh to mbak,” ucapku.
Mbak In duduk dan berujar bahwa hatinya saat ini tengah resah. Persis dugaanku. Seperti biasa, aku diliputi hasrat ingin tahu. Gerangan apa yang tengah mengusik benaknya.
“Jeng, mau nggak bantu aku.”
“Tentu mbak.”
Mbak In bercerita tentang keiinginannya membentuk sebuah komunitas yang menggalang dana untuk membantu anak-anak kurang mampu agar bisa masuk sekolah lagi. Aku terperangah. Mbak In mengangguk. Terus terang aku bingung bagaimana caranya mengumpulkan dana untuk anak-anak kurang mampu.
Untuk mengumpulkan uang jimpitan di RT saja sulit. Tak terkumpul. Ini harus menggalang dana. Menyekolahkan anak tentu membutuhkan biaya banyak. Aku pernah melontarkan gagasan seperti ini kepada petinggi RT, tak mendapatkan respon.
Hambatan lain apakah warga yang hendak kita sekolahkan memiliki keinginan untuk sekolah? Aku perhatikan orang-orang setempat, yang dekat dengan tempat kami tinggal, kurang peduli dengan pendidikan. Pernah juga kelompok ibu-ibu pengajian ramai-ramai menyekolahkan seorang perempuan hingga SMP. Usai lulus si anak malah buru-buru menikah. Duh, kecewa mendengar anak yang disekolahkan memilih nikah muda.




“Yang kita bantu anak-anak yang punya impian, Jeng.” Aku terperangah lagi. Aku pandangi mbak In.
“Anak yang punya semangat tinggi untuk sekolah. Jangan kita sekolahkan lalu tahu-tahu di tengah jalan mereka menikah muda.” Aku sedikit menautkan kening kali ini. Bagaimana mungkin kita bisa mencegah orang lain untuk tidak menikah muda? Bisa dituduh melanggar hak asasi nanti. Mbak In terdiam sejenak. Ia menatapku.
“Percuma dong Jeng kalau kita sekolahin tetapi berhenti di tengah jalan. Aku pengennya anak yang kita sekolahin ya tuntas selesai sampai jadi orang. Kalau pun dia perempuan ya punya karier bagus. Kalau anak laki-laki memiliki pekerjaan yang layak. Bisa menghidupi anak-istri dengan sejahtera. Hidup ini nggak melulu makan dan minum saja, kita butuh rekreasi, bacaan, nonton, juga berlibur. Semua itu bisa kita penuhi kalau pendapatan kita bagus. Lha bagaimana caranya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? Ya sekolah yang tinggi Jeng.”
Aku mengamini kalimat panjang Mbak In yang berapi-api. Ruang tamu mendadak senyap.
Mbak In menyandarkan kepalanya ke dinding. Kursi di ruang tamu memang saya letakkan berdekatan dengan dinding. Jadi kepala seseorang bisa bersandar ke dinding saat tengah duduk santai.
“Ya percuma Jeng, kalau kita sekolahin anak-anak eh hanya selesai sampai SMU lalu menikah muda. Jadi ibu rumahtangga saja. Rugi kita.” Saya tersenyum.
“Terus Mbak In maunya apa, lha wong menikah muda sudah tradisi di kampung sebelah, bahkan tanpa pekerjaan tetap pun pemuda di kampung sebelah itu bisa menikah. Orangtua biasanya menjual tanah untuk beli motor lalu ngojek. Yang perempuan turun ke perumahan untuk menjadi pembantu rumah tangga. Anak-anak yang lahir seringkali terlantar sekolahnya karena biaya tak cukup. Begitu muter hingga turun-temurun: kalau nggak ngojek, kerja serabutan, ya jadi pembantu rumah tangga,” ujarku cuek.
Memang begitu kenyataan yang ada. Mereka sudah bahagia dengan kehidupan yang seperti sekarang ini.
“Kasihan anak-anak mereka Jeng,” terdengar helaan napas Mbak In. Terasa berat. Wajahnya yang sedari tadi agak mendung, kini benar-benar mendung.
“Kita harus berani mengubah mereka menjadikan anak-anak memiliki impian hidup lebih baik lagi.”
Saya pandangi lagi wajah Mbak In yang penuh harapan.
“Mau kan,” kali ini setengah merajuk.
Aku mengangguk. Bola mata Mbak In berbinar.


DIANING WIDYA
, novelis dan pegiat sosial di Spiritkita.org yang berbasis di Tangerang Selatan.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *