Tokoh Penting Bahasa Indonesia Prof. Dr. JS Badudu Tutup Usia

25ee0956-93ea-4801-9187-4fb6c3aeb0ba_43

Tokoh penting dan guru Bahasa Indonesia, Prof. Dr. Jusuf Syarief Badudu yang dikenal dengan panggilan JS Badudu atau Yus Badudu telah tutup usia di RS. Hasan Sadikin, Bandung. Ia meninggal dunia pada pukul 22:10 WIB, Sabtu malam (12/3/2016).

Dalam siaran persnya, Ananda Badudu, cucu JS Badudu yang ke-7, menyatakan bahwa dua hari sebelum wafat, ia telah dirawat inap di RS. Hasan Sadikin karena stroke. Sekitar sepuluh tahun terakhir ini, ia sudah beberapa kali diserang stroke ringan maupun berat yang mengakibatkan kondisi kesehatannya makin lama semakin merosot.

JS Badudu meninggal dunia pada usia 89 tahun. Ia meninggalkan 9 putra dan putri, 23 cucu, serta 2 cicit.

JS Badudu lahir di Gorontalo, pada 19 Maret 1926. Sepanjang usianya, ia telah mengabdikan diri untuk Bahasa Indonesia melalui kegiatan belajar-mengajar. Ia mengahkiri pengabdiannya di bidang pendidikan pada usia 80 tahun, karena kondisi fisiknya yang terus menurun seiring bertambahnya usia.

Jenazahnya di semayamkan di tempat tunggalnya di Jalan Bukit Dago Selatan, nomor 27, Bandung.

JS Badudu mulai dikenal oleh masyarakat luas sejak ia tampil dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang ditayangkan TVRI pada tahun 1977-1979, lalu dilanjutkan pada tahun 1985-1986. Pada masa itu TVRI merupakan satu-satunya siaran televisi di Indonesia.

JS Badudu sudah menjadi guru sejak usia 15 tahun. Beberapa buku yang telah ia tulis antara lain: Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994), Revisi Kamus Sutan Muhammad Zain (2003), Pelik-pelik Bahasa Indonesia (1971), Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993), dan lain-lainnya.

JS Badudu adalah orang pertama yang mendapat gelar Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Padjajaran Bandung. Ia memperoleh gelar Doktor dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1975 dengan disertasi berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.

Atas sumbangsih dan pengabdiannya di bidang Bahasa Indonesia, ia dikaruniai tiga tanda kehormatan dari pemerintah, yakni Satyalencana Karya Satya (1987), Bintang Mahaputera Nararya (2001), dan Anugerah Sewaka Winayaroha (2007).

Jenazah dimakamkan hari ini, Minggu (13/3/2016) pukul 10:30 WIB, di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Pemakamannya dilakukan dengan prosesi militer.

[iman sembada | dari berbagai sumber ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *