Kabut Perang, Novel Berlatar Konflik Aceh

Kabut Perang, Ayijuf

“Di daerah perang, kebenaran selalu tersembunyi di balik kabut. Para Kombatan meneriakkan kebenaran di ujung senapan masing-masing”

Pada medio Januari 2014, saat saya sedang sibuk berpindah tempat seperti kepompong bertransformasi menjadi kupu-kupu, saya menemukan sebuah novel yang seharusnya saya baca pada 2012 atau 2013. Buku karangan Ayi Jufridar berjudul Kabut Perang tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit mayor Universal Nikko dan menang dalam Ubud Writers and Readers Festival di Bali.

Saat itu, saya seperti punya utang janji dan harus menyelesaikan bacaan saya. Lantas, pada suatu kesempatan, saya kembali dengan aktifitas membaca dan menulis, hingga pada saat saya tulis resensi ini, Novel Kabut Perang telah menjadi alamat atas pertanyaan saya selama ini. Sebenarnya, di antara kedua belah pihak, siapa yang paling dirugikan? Adakah pihak ketiga yang ikut menjadi tumbal?

Novel Kabut Perang ini perlahan membawa saya berlabuh dalam segala kegetiran. Apalagi saat menemukan orang yang terlalu cinta pada negeri ini –tokoh dalam novel yang bernama Tasrif- menemukan keluarganya bersimbah darah di atas tikar pandan dengan beberapa tubuh lain yang sudah membeku. Padahal, sebelum sampai ke sekolah, Tasrif mendapati beberapa orang yang sedang memasang bom rakitan di sekitar jalanan. Saat sebuah reo lewat–mobil besar yang digunakan TNI- ia ingin memperingati kepada mereka bahwa ada yang memasang bom di sana. Tapi karena dilarang oleh teman-temannya, Tasrif menyudahi keinginannya tersebut. Lalu saat berada di sekolah, ia tersentak oleh panggilan guru yang menyuruhnya pulang ke rumah saat sedang belajar. “Ummi, Kakak, Abangnya berada di antara 12 tubuh yang sudah tak bernyawa. Di atas tikar pandan dengan noda darah di beberapa bagian.” (Hal. 17).

Inilah alasan dasar tasrif bergabung dengan para gerilya. Ia merasa kemerdekaannya telah diambil dengan paksa saat orang yang dicintainya meninggal dengan tidak wajar. Di kubu gerilya, Tasrif tidak langsung bisa menyesuaikan diri di sana. Ia menemukan banyak fiksi-fiksi di dalam tubuh gerilya. Orang yang bergabung dengan gerilya adalah orang-orang yang memang banyak mengalami hal serupa. Misalnya hal kecil karena di bentak oleh salah seorang tentara. Atau ada saudaranya yang dipukuli dan diperkosa. Saat itu pula Tasrif mulai mendengar hal yang tidak bisa masuk dalam daya pikirnya. Seperti beberapa gerilyawan yang percaya pada minyak wangi yang dipakai Pemimpin mereka dapat mengalahkan musuh. “Minyak wangi itu sudah dimantrai. Justru aromanya mengelabui musuh. Dan …” (Hal. 21)

Tidak sampai di sini, Tasrif pun menjadi orang kepercayaan Pemimpin gerilyawan. Suatu saat, saat ingin menyelundupkan senjata melalui darat, Pemimpin memutuskan untuk mempercayai Tasrfi dan seorang gerilyawan lain menjalankan misi tersebut. Padahal beberapa orang gerilyawan lain yang sudah lama bergabung belum tentu dapat misi tersebut. “Ini senapan serbu model dua. Makanya disebut SS-2. Lebih ringan dibandingkan M-16 atau AK-47. Sekitar 3,4 kilogram saja. Bisa untuk tembakan tunggal atau rentetan. Akurasi lebih tinggi karena hentakan ke belakang saat menembak sangat halus. Kalian pasti suka.” (Hal. 89).

Banyak hal yang ditemukan dalam tubuh perjuangan oleh Tasrif. Ada hal yang memang benar-benar terjadi, dan ada juga hal yang memang sengaja dilakukan untuk menunjukan perjuangan memang untuk bertujuan merdeka. Seperti beberapa kejadian yang dianggap oleh Tasrif memang dilakukan oleh orang-orang yang bersimpati pada gerilya. Mereka menjadi kabut dalam konflik tersebut. Bahkan ada yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Perdangan senjata, perampokan, pembunuhan, adalah sederatan kejadian umum yang setiap hari dibaca khalayak ramai di koran-koran harian. “Mereka bersimpati dengan nasib kami yang banyak mengalami penyiksaan semasa operasi militer.” (Hal. 136)

Novel setebal 358 ini diakhiri dengan penangkapan terhadap Tasrif dalam sebuah razia yang dilakukan tentara nasional. Penangkapan tersebut tidak lepas dari adanya pengkhianat dari tubuh gerilyawan sendiri –di Aceh orang tersebut disebut cuak- yang rupanya telah membantu tentara nasional untuk mencari gerilyawan lainnya. “Kalimat singkat itulah yang kemudian memberikan jawaban bagiku. Prajurit bershebu itu, kendati aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi kini aku mengenalnya. Pemuda itu pernah dikabarkan sudah meninggal dunia ketika menembak pesawat Hercules seorang diri dari atas pohon kelapa. Manyatnya tidak pernah diserahkan kepada keluarga karena tentara mengambil organ tubuhnya untuk dijual. Ternyata dia belum meninggal. Bahkan kini bekerja membantu musuh.” (Hal 351).

“Tiba-tiba saja aku mendengar seorang berteriak sedikit keras. Ia memberi perintah kepada anak buahnya untuk memindahkan perintang di jalan dan menghentikan pemeriksaan karena sudah menjelang salat jum’at. Dan saat itulah aku sadar bahwa hari ini hari jum’at. Ya, hari kematianku.” (Hal 355).

Sebagai pembaca awam, dan mencari sebuah kebenaran, Novel ini patut dibaca oleh khalayak umum khususnya di Aceh dan umumnya masyarakat luar. Agar mereka tahu, seperti apa setiap tetesan darah yang tumpah. Mau itu dari tentara nasional, gerilyawan, atau pun dari pihak masyarakat sendiri yang pada nyatanya dalam peperangan menjadi tumbal yang paling gila.[]

 

Kabut Perang

Judul               : Kabut Perang

Penulis             : Ayi Jufridar

Penerbit           : Universal Nikko

ISBN               : 9786029547627

Resensor          : Pilo Poly

Pilo Poly adalah nama pena dari Saifullah S. Lelaki berdarah Aceh ini sekarang menetap di Bekasi. Puisinya sudah pernah dipublikasikan di media lokal maupun Nasional. Cerpennya termaktub dalam beberapa antologi bersama seperti Cinta Dalam Koper (2011), Jatuh Cinta Pada Palestina (2012) . Buku puisi tunggalnya adalah Yusin dan Tenggelamnya Keadilan (2014) . Pilo bergiat di Cendol (Cerita Nulis Diskusi Online)

[DOC | PILO]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *