PROMOSI BUKU SASTRA MASIH MINIM

0_0_1000_748_440a788f07fad0aaee6d8a785fd4055334c2b8bd

Salah satu novelis Indonesia yang sedang ramai jadi perbincangan, Eka Kurniawan (40), dengan gamblang mengatakan bahwa kesusastraan Indonesia harus terus dipromosikan. Salah satu caranya adalah dengan menerjemahkan dan menerbitkan novel-novel Indonesia ke dalam bahasa asing.

Hal itu diungkapkan Eka saat menjadi tamu dalam acara diskusi sastra novel “Lelaki Harimau” karangannya yang diadakan Institut Prancis di Indonesia (Institut Francais d’Indonesie – IFI) di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (25/2/3016).

Usia kesusastraan Indonesia yang notabene belum memiliki rekam jejak panjang adalah alasan utama mengapa promosi tersebut harus bergegas dilakukan. Berbeda misalnya dengan kesusastraan Spanyol atau Prancis yang usianya sudah berabad-abad.

Alasan lainnya, untuk menghindari kekeliruan dari publik mancanegara yang menyebut bahwa dirinya merupakan satu-satunya penulis novel Indonesia yang bagus. “Kalau ada orang yang bilang saya satu-satunya novelis bagus di Indonesia, berarti orang itu belum mengetahui kesusastraan Indonesia. Ha-ha-ha,” kata Eka disambut tawa oleh peserta diskusi.

Salah satu momen yang dijadikannya rujukan adalah kala Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam acara Frankfurt Book Fair (FBF) yang berlangsung pada 14-18 Oktober 2015 di Frankfurt, Jerman. Dalam ajang pameran buku internasional yang diikuti ratusan negara dan dihadiri para profesional di industri buku tersebut, kontingen Indonesia memamerkan sekitar 200 buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.

Berkat hasil terjemahan tersebut, para penerbit asing dapat meraba dan mengetahui bahwa ada banyak karya sastra Indonesia dengan kualitas jempolan. Sejumlah penulis dan penerbit tanah air bahkan berhasil mencapai kata sepakat dengan pihak asing.

Penerbit Gramedia Pustaka Utama misalnya, dikutip CNN Indonesia, mengadakan sekitar 50 pertemuan dengan penerbit dan toko buku mancanegara selama mengikuti ajang FBF, 45 di antaranya bersedia menjalin kerja sama, antara lain dengan penerbit asal Malaysia, Vietnam, dan Jepang.

“Menurut saya, momen-momen seperti itu jangan hanya bersifat kebetulan, tapi harus rutin diusahaakan. Entah yang melakukannya dari pihak pemerintah atau swasta, yang jelas kesusastraan Indonesia harus terus didorong agar lebih dikenal oleh publik internasional,” lanjutnya.

Tiga novel karya pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, itu juga telah sukses menjalin kerja sama dengan berbagai penerbit luar negeri. Contohnya novel “Lelaki Harimau” yang telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Malaysia, Inggris, dan Prancis. Pun “Cantik itu Luka” yang menurutnya kini sudah tersedia dalam 24 bahasa.

“Novel saya lainnya yang berjudul ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ juga sudah berhasil mencapai kesepakatan untuk diterbitkan dalam bahasa Inggris. Rilisnya tahun depan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *