Puisi Iman Sembada

Iman Sembada 3

Iman Sembada lahir di Purwodadi, 4 Mei 1976. Saat ini aktif bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Buku puisinya adalah Air Mata Suku Bangsa. Selain menulis puisi, ia juga senang menggores-goreskan kuas di atas kanvas. Sehari-hari ia tinggal di kawasan Limo, Cinere, Kota Depok. Namun, ia lebih dikenal sebagai seniman Tangerang Selatan.

SETELAH 20 MENIT DI DEPAN CERMIN

Aku mengamati sekujur tubuhku, 20 menit yang
Lalu. Aku hampir dibuat gila oleh cinta yang
Gelisah. Lalu aku segera membuka diriku. Setiap
Suara telah jadi kisah dalam diriku. Aku mengingat
Kembali segenap kenangan, juga masa kanal-kanakku
Yang samar. Kamera-kamera memotret lagi diriku

Jangan memasukkan kisah-kisah kesedihan, juga
Seragam tentara dalam diriku, kekasihku. Aku tak
Ingin diriku menjelma simbol-simbol kekerasan dan
Teks-teks kekuasaan. Aku tak lagi berdiri di depan
Cermin. Angin keluar-masuk, meninggalkan aroma
Garam dalam diriku. Kupu-kupu mulai memasuki diriku, lalu
Hinggap di ranting-ranting mimpiku. Hidup tak bisa
Dilupakan dengan tidur dan mabuk, kekasihku

Aku mengamati sekujur tubuhku. Ada sisa saos
Di bibirku, 20 menit yang lalu. Kupu-kupu telah
Membuat kisah lain lagi dalam diriku. Lalu bel-bel
Berbunyi, seperti denyut waktu dalam sebuah novel
Getir yang terbit di negara-negara bekas jajahan

Pamulang, Februari 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *