Mall

satu aceh - tahun baru

CERPEN: Ni Komang Ariani | @menulisfiksi |

Sepertinya memang nyaris mustahil untuk membayangkan untuk hidup dengan baik-baik saja di Jakarta. Aku merasakan kegilaan yang hebat saat memasuki ruangan-ruangan mall yang demikian mewahnya, yang sulit kubayangkan kubangun dengan uangku sendiri. Apa yang harus aku lakukan dalam pekerjaanku untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Apakah aku harus jungkir-balik atau nungging-nungging?

Mungkin karena inilah orang-orang menganggapku kuno. Karena aku hampir tidak pernah menginjakkan kaki ke mall, padahal aku sudah sepuluh tahun hidup di Jakarta. Tak jelas apa penyebabnya. Mungkin karena bangunan mall yang begitu megah dan orang-orang berpakaian mewah yang datang ke sana membuat aku rikuh. Mungkin karena aku sudah terlampau lelah bertarung dengan kemacetan Jakarta dan memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin membumbung tinggi.

Hari ini entah angin apa yang membawaku ke mall. Mungkin hanya penasaran. Penasaran dengan bangunan yang tampak gemerlap dan megah dari luar. Mungkin aku memang harus tahu sendiri apa rupa mall, ingin melihat langsung bangunan yang dibicarakan oleh ibu-ibu dengan semangatnya di acara arisan, ingin tahu tempat yang saban hari membuat anakku, Iman merengek minta uang lebih untuk makan di restoran cepat saji.

Setelah dua jam berjalan-jalan di mall, kakiku terasa hampir copot. Dan yang lebih parah adalah aku menjadi setengah mabuk. Pikiranku suntuk mengingat harga-harga barang di mall ini yang membuat mataku melotot lebar. Perutku sempat mulas melihat benda kecil tidak berarti, yang bahkan tidak kuketahui fungsinya, harganya hampir sama jumlah gaji yang aku terima setiap bulan.

Aku memutuskan untuk beristirahat dan makan siang. Istriku pasti mentertawakan ulah anehku hari ini. “Ndak usah lah Pak, ikut-ikutan orang pergi ke mall segala. Sejak di kampung kita sudah biasa hidup sederhana. Di Jakarta juga bisa hidup sederhana.”

Aku menelan ludah melihat harga yang harus aku bayar untuk pesananku, ayam goreng, lalapan dan es teh manis. Lima puluh lima ribu Pak. Aku merogoh sakuku dengan agak gemetar. Lega menemukan uang lima puluh ribu, satu pecahan lima ribu dan satu pecahan dua ribu. Mukaku masih terselamatkan hari ini. Dalam hati aku berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakiku di mall lagi.

Aku menyantap makananku dengan selera yang sudah surut. Mall terlampau gila bagiku. Hidupku yang terasa layak dan wajar di rumah, terasa sangat mustahil di mall ini. Aku bisa melihat kekusaman dan kesuraman yang aku pantulkan lewat cermin-cermin besar di mall megah ini.

Aku terlihat ganjil dan tak cocok dengan mall ini dan semua orang berpenampilan mewah di dalamnya. Sebegitu gagalkah hidupku di Jakarta? Padahal aku datang ke Jakarta sebagai lulusan sarjana. Di mall ini aku terlihat segagal-gagalnya. Apa yang aku capai sekarang belum sampai seujung kukunya dibandingkan orang lain di Jakarta. Adakah suatu kemungkinan di masa depan, aku akan sampai ke sana, aku akan mampu membeli pakaian-pakaian berharga selangit yang digantung berjejer di mall ini?

Aku masih setengah mabuk mall, saat menikmati tegukan teh manis berharga selangit ini. Yah, aku memang sebaliknya tidak perlu datang ke mall lagi. Jadi aku tidak pernah tahu ada dunia lain yang akan mengejek kemiskinanku. Ini tamasya mall terakhirku. Di luar sana masih banyak toko-toko biasa yang dapat menerima aku sebagai orang yang wajar.

**

Kegilaan itu belum berakhir hari ini. Saat melewati portal parkir, aku begitu percaya uang dua ribuku akan menyelesaikan masalah hidupku di mall ini.

“Empat ribu rupiah, Pak!”

Aku terbelalak kaget. Merogoh semua saku yang ada di bajuku, berharap dengan ajaibnya menemukan satu lembar dua ribu rupiah. Sialnya, aku gagal menemukan uang sepeserpun, setelah lima menit berjuang keras menemukan lembaran uang yang tercecer di sakuku.

“Waduh Mbak, uang saya hilang. Mungkin jatuh di kamar mandi. Besok saya kembali untuk bayar ya..!”

Si mbak penjaga boks parkir itu memandangku dengan wajah masam. Apakah begitu kentara bahwa aku adalah seorang laki-laki tua yang lusuh dan miskin.

Siang itu aku pulang dengan rasa malu. Seumur hidup aku belum pernah berhutang. Ketika hal ini aku ceritakan pada istriku, ia tertawa terbahak-bahak.

“Makanya jangan sok jalan-jalan ke mall!”

“Ya aku cuma ingin tahu rasanya jalan-jalan di mall.”

“Ya ndak papa lah Pak. Wong kalau ke mall, uangnya juga ndak ada. Daripada tersiksa karena kepengen, mending ndak usah sekalian.”

“Kamu bener Bu, aku merasa tersiksa betul, melihat-lihat di mall tapi ndak bawa uang. Mau beli juga nggak mungkin. Hanya bisa ngiler. Untung juga ya kamu ndak ikut-ikutan sok nge-mall seperti ibu-ibu yg lain. Kalo iya, bisa mampus aku.”

Istriku hanya tersenyum kecil. Lekukan di sekitar bibirnya menambah jumlah kerutan di wajahnya yang mulai kelihatan tua di usianya yang baru empat puluh. Tubuh itu menampakkan dengan jelas perjuangan dan keliatan untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

“Aku sih ndak muluk-muluk Pak. Yang penting bisa nyekolahin Imam dan Iza sampai sarjana.”

“Bener Bu, tapi saya lihat kok si Iman mulai ndak bener. Ikut-ikutan gaya-gayaan seperti temennya yang kaya.”

“Ya itu Pak, Imam belakangan mulai suka nglawan, ndak bisa dibilangan. Kayaknya anaknya lagi naksir cewek jadi pengen kelihatan gaya di depan ceweknya itu.”

“Ya tetep aja dia mesti sadar diri. Ndak boleh sok-sokan. Kalau mau gaya-gayaan segala, suruh dia cari kerja dan pake duit sendiri.

Perempuan setengah baya itu mendesah panjang.

“Kamu aja yang bilangin Pak, kali aja dia lebih nurut sama kamu”

“Ya mesti nurut dong. Anak mesti nurut sama orang tua. Orang kita yang banting tulang untuk dia.”

“Ya nanti aku coba ngomong pelan-pelan.”

Inilah kegilaan Jakarta lain yang aku rasakan. Gajiku yang pas-pasan, dengan harga barang yang serba mahal, masih juga harus bertempur dengan gaya hidup serba mewah para tetangga atau teman-teman anakku. Semuanya sangat mustahil kuikuti. Sekaligus hampir mustahil untuk aku mengerti.

Memikirkan bagaimana para tetangga yang pekerjaannya tidak jauh berbeda denganku, bisa mempunyai uang yang jauh lebih banyak daripada yang aku bayangkan. Mereka mampu membeli mobil baru, sementara aku berjibaku setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang sangat besar itu.

Kalau kubicarakan hal ini dengan istriku, dengan sabar ia menasihatiku untuk tidak usah peduli. Ucapannya yang selalu terlihat sabar dan penuh kelembutan itu yang selalu membuat hatiku adem.

“Ya ndak usah dipikirin toh Pak. Toh bukan harta kita juga.”

“Tapi kehidupan mereka yang mewah bikin anak-anak kita jadi pada ngiler. Padahal ya sama PNS juga.”

“Ya tetep salah anak kita sendiri kenapa ngiler. Ya ndak usah ngiler, wong tiap hari masih bisa makan tiga kali sehari, ya sudah mesti bersyukur. Orang lain yang lebih susah, harus nahan laper.”

“Sudah kamu bilangin si Imam sama si Iza.”

“Sudah sering si Pak, aku bilangin. Mudah-mudahan anak-anaknya pada mudeng.”

Ya begitulah, pergolakan hidup orang yang penghasilannya pas-pasan seperti aku. Bagi sebagian besar orang Jakarta, barangkali kami sekeluarga ini termasuk tipe kuno, kampungan dan ketinggalan jaman.

Wong aku dan istriku tidak pernah main ke mall. Anak-anak pun kami larang untuk main-main ke mall. Entahlah apakah mereka nurut atau tidak. Maklum mereka sudah remaja dan masuk masa puber. Sepertinya terlihat gaya adalah sesuatu yang paling penting bagi mereka.

Entahlah. Aku merasa bahwa hidup dan bertarung dengan cara hidup orang-orang Jakarta adalah sebuah kegilaan. Aku harus bertarung dengan sesuatu yang tidak semestinya aku lawan. Semakin lama aku merasa semakin kecil, semakin terpojok dan tidak pernah sampai kemana-mana? Apa sih ukuran sukses untuk orang sepertiku?

Sekilas hidupku terlihat sukses. Aku PNS, kedua anakku bersekolah dengan baik. Tapi yang aku lihat di mall pagi ini membuat aku sadar, aku bahkan belum apa-apa dibandingkan kebanyakan orang yang mampu membeli barang-barang mewah itu dengan begitu mudah.

Mengapa aku katakan mudah? Para pembeli lapar itu membentuk antrean untuk membeli barang-barang yang begitu mahal seperti membeli kacang goreng. Kembali aku dibuat sakit kepala memikirkannya. Apa pekerjaan mereka dan bagaimana cara kerja mereka sehingga mereka bisa mendapatkan uang begitu banyak? Untunglah aku mempunyai istri yang kuat iman dan selalu mengatakan kata-kata yang menyejukkan. Kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi ikut gila bersama Jakarta. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *