Ada Wajah Melayu pada Secangkir Kopi Sekanak

IMG-20171202-WA0017-001

JAKARTA (Tangselone.com) – Nuansa Melayu sangat kuat pada sajak-sajak Rida K Liamsi. Demikian dikatakan Fakhrunnas MA Jabbar dalam diskusi peluncuran buku Secangkir Kopi Sekanak karya Rida K Liamsi di Jakarta, belum lama ini. “Sajak-sajak Pak Rida meneguhkan kembali semangat Melayu dalam sastra,” katanya.

Diskusi yang berlangsung di auditorium Perpustakaan Nasional itu juga menampilkan Ahmadun Yosi Herfanda, Hasan Aspahani, dan Kurnia Effendi sebagai pembicara, dengan moderator Sofyan RH Zaid dalam dua sesi.

Acara juga diisi pembacaan puisi oleh Sutarji Calzoum Bachri, LK Ara, Asrizal Nur, Ewith Bahar, Husnizar Hood, Sihar Ramses Simatupang, Rini Intama, dan Jimmy S Johansyah. Suasana puitis diciptakan oleh Rinidiyanti Ayahbi yang menyanyikan sajak-sajak Rida dengan sangat merdu.

Metafor Melayu

Dalam diskusi, Ahmadun juga mengatakan kuatnya warna Melayu dalam sajak-sajak Rida, terutama pada pilihan tema sejarah Melayu dan metafor. “Banyak kosa kata Melayu yang menghiasi sajak-sajak Pak Rida. Termasuk kata-kata Melayu yang sudah arkais,” katanya.

Meskipun begitu, menurut Ahmadun, dari aspek puitika, terutama unsur rima dan tipografi, sajak-sajak Rida tidak lagi menampakkan wajah sastra Melayu. “Tak terlihat lagi jejak syair, pantun, atau gurindam,” katanya.

Rida, tambahnya, lebih memilih pola-pola tipografi puisi kontemporer dengan model pembaitan seperti paragraf dalam esai naratif. “Mungkin ini yang disebutnya sajak naratif,” katanya. “Selain itu, ada juga sajaknya yang berpola haiku,” tambahnya.

Gadis Melayu

Jika sajak-sajak Rida diibaratkan sebagai gadis Melayu, tambah pemred Litera.co.id itu, sajak-sajak Rida ibarat gadis Melayu yang tidak lagi berbusana Melayu, tapi memakai kaos dan jean. “Saya jadi ingat pertanyaan penyair Tanjungpinang Suryatati A Manan lewat salah satu puisinya, ‘Masih Melayukah aku?” ujarnya.

Barangkali, tambah Ahmadun, untuk mengungkapkan kemelayuan dalam puisi kita tidak harus terkungkung dalam pola-pola pengucapan puisi Melayu lama. Jika ada pola-pola pengucapan baru yang lebih kreatif, kenapa tidak. Dan, pola-pola pengucapan baru itulah yang menjadi pilihan Rida K Liamsi. “Jadi, kita sesapkan saja apa adanya!” ujarnya.

Rida K Liamsi dikenal sebagai penyair produktif yang menggagas Hari Puisi Indonesia, yang kini dirayakan tiap tahun di seluruh Indonesia. Peluncuran kumpulan puisinya itu diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu yang diketuai oleh Asrizal Nur. (R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *