Ngabuburit Sastra dan Buka Puasa di Masjid Istiqlal

acara-ngabuburit-sastra-di-masjid-istiqlal-jakarta-_170622140343-336-001

JAKARTA (Tangselone.com) – Ngabuburit sastra dengan menghadirkan sejumlah seniman dan sastrawan nasional digelar di selasar Masjid Istiqlal 14 -18 Juni 2017, di depan sekitar 1.000 jamaah yang menunggu saat berbuka puasa.

Acara diformat mirip talk show dengan diselingi pertunjukan musik religi Bianglala Voice. Hadirin berdialog tentang seni dan sastra religius dengan Embie C Noer, Yanusa Nugroho, Ahmadun Yosi Herfanda, Nurdin M Nur, dan Nanang Hp.

Acara diawali pertunjukan musik. Selain membawakan lagu-lagu religius, Bianglala juga membawakan sajak-sajak religius. Hadirin tampak antusias mengikuti acara. Bahkan, pada sesi Ahmadun YH, beberapa jamaah mengajukan diri untuk ikut membacakan sajak penyair religius mantan redaktur sastra Republika itu. Salah satunya adalah Beno SK, pebisnis perjalanan umrah dan haji, yang membacakan “Sajak Keranda” dengan penuh penghayatan.

Pada dialog yang dimoderatori oleh Muhammad Rafiq, Ahmadun menyampaikan tentang pentingnya sastra khususnya puisi dalam kehidupan umat. “Sastra, dan karya seni yang lain, dapat melembutkan hati dan menumbuhkan rasa keindahan,” katanya, Kamis (22/6/2017).

Membuat karya seni yang indah dan Islami, juga menulis puisi yang indah, dengan simbol-simbol alam yang indah, menurut Ahmadun, sama dengan berzikir mengagungkan Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta. “Karya seni yang indah dan Islami, Insya Allah, diridloi Allah. Sebab, Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan. Innallaha jamiilun yuhibbul jamal,” tutur Ahmadun.

Menurut Ahmadun, sastra dan seni pada umumnya juga dapat menjadi media dakwah. Sastrawan Muslim dapat memanfaatkan sastra sebagai sarana jihad kreatif dan bahkan ijtihad estetik. “Ijitihad itu kan upaya untuk menemukan hukum atas perkara baru. Nah, upaya untuk menemukan pola estetika baru dan metafor baru dalam menulis puisi dapatlah disebut sebagai ijtihad estetik,” katanya.

Dewasa ini, tambahnya, keberadaan sastra dan seni Islami makin penting untuk mengimbangi sastra dan seni sekuler yang tumbuh subur di masyarakat, serta lebih banyak didukung oleh media cetak dan media sosial. Setidaknya, keluarga Muslim punya pilihan seni dan sastra yang lebih sesuai dengan keyakinan mereka.

Karena peran dan manfaat positifnya itu, tambahnya, seni dan sastra tak pernah lepas dari perkembangan kebudayaan Islam. Satra Islami yg sufistik, misalnya, berkembang sejak masa Hamzah Fansuri hingga sekarang. Pada masa Wali Sembilan, sastra dan seni juga dimanfaatkan untuk sarana dakwah yang kultural.

Dalam acara ini para pembicara tidak tampil sekaligus. Menurut koordinator acara, Agung, tiap satu hari ditampilkan satu pembicara bersama kelompok musik yang mendapat giliran tampil. Ngabuburit sastra ini merupakan salah satu acara untuk mengisi saat-saat menunggu Maghrib dalam bulan Ramadhan di masjid terbesar di Indonesia itu. (R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *