Istirahatlah Kata-Kata: Film Kisah Hidup Penyair Wiji Thukul

19181194_303-001

JAKARTA (Tangselone.com) – Film Istirahatlah Kata-Kata, yang mengangkat kisah hidup penyair sekaligus aktivis Wiji Thukul, akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 19 Januari 2017. Film Istirahatlah Kata-Kata memiliki judul Internasional yakni Solo, Solitude. Istirahatlah Kata-Kata diambil dari salah satu puisi penyair Wiji Thukul.

Film karya sutradara Yosep Anggi Noen ini, proses produksinya dikerjakan bersama oleh Yayasan Muara, Partisipasi Indonesia, KawanKawan Film, dan LimaEnam Films. Sedangkan pemain yang terlibat antara lain Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Davi Yunan, Eduwart Boang, dan Arswendy Nasution.

Dalam film Istirahatlah Kata-Kata, dijabarkan masa pelarian Wiji Thukul seusai peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996. Wiji Thukul dan beberapa aktivis dituduh untuk bertanggungjawab dan dikejar-kejar aparat penguasa Orde Baru. Wiji Thukul dalam pelariannya di Pontianak, ia sering berpindah-pindah dan berganti identitas.

Wiji Thukul adalah penyair yang dikenal karena kelantangannya meneriakkan ketidakadilan. Suara protesnya dianggap mengganggu Orde Baru. Dalam pelariannya di Pontianak selama delapan bulan, Wiji Thukul masih menulis puisi dan cerita pendek.

PERINGATAN

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

Puisi berjudul Peringatan karya Wiji Thukul di atas sangat populer di kalangan kaum buruh dan aktivis. Baris terakhir puisi Peringatan sangat terkenal, bahkan hampir bisa dikatakan menyetarai kalimat “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”nya Chairil Anwar.

Wiji Thukul lahir pada 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah, yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Wiji Thukul adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1979, ia melanjutkan ke Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari, tapi tidak tamat (1982).

Wiji Thukul kemudian berjualan koran, lalu ia diajak tetangganya kerja di perusahaan meubel menjadi tukang pelitur. Ia dikenal sebagai penyair pelo (cadel) yang sering mendeklamasikan puisi-puisinya untuk teman-teman sekerjanya.

Wiji Thukul mulai menulis puisi sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Ketika SMP, Wiji Thukul mulai tertarik pada seni teater. Lewat seorang teman sekolah, Wiji Thukul berhasil ikut bergabung dengan kelompok teater, yakni Teater JAGAT (singkatan Jagalan Tengah).

Bersama kelompok Teater JAGAT, Wiji Thukul pernah keluar-masuk kampung ngamen puisi dengan iringan berbagai instrumen alat musik. Kegiatan ngamen itu tidak hanya dilakukan di wilayah Solo saja, tetapi sampai ke Yogyakarta, Klaten, dan Surabaya.

Wiji Thukul juga pernah menjadi wartawan Masa Kini, tahun 1988, meski cuma tiga bulan. Puisi-puisi Wiji Thukul dimuat di beberapa media massa cetak dalam negeri dan luar negeri. Dibanding yan tersebar di media massa cetak, puisi-puisi Wiji Thukul lebih banyak yang tersebar dalam bentuk fotokopi. Puisi-puisi Wiji Thukul terangkum dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).

Tahun 1989, Wiji Thukul diundang membaca puisi oleh Goethe Institut di aula Kedutaan Besar Jerman di Jakarta. Tahun 1991, Wiji Thukul tampil di Pasar Malam Puisi yang diselengggarakan oleh Erasmus Huis, di Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta. Tahun 1991, Wiji Thukul menerima WERTHEIM ENCOURANGE AWARD yang diberikan oleh Weirtheim Stichting di negeri Belanda.

Sejak kerusuhan 27 Juli 1996 yang dilatarbelakangi perebutan kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, hingga kini Wiji Thukul tak diketahui di mana berada.(R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *