Etika dan Literasi Sebagai Pilar Kearifan Lokal Kota Tangerang Selatan

p61208-144802-001

SERPONG (Tangselone.com) – Kegiatan Workshop Kebudayaan Kota Tangerang Selatan telah usai digelar di Hotel Ibis Tangerang. Kegiatan ini diselengggarakan oleh Kantor Budaya dan Pariwisata bekerjasama dengan Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS), pada tanggal 7-8 Desember.

Pada sesi terakhir diskusi menghadirkan sastrawan Humam S Chudori dan Ketua DKTS H. Shobir Poer sebagai pembicara.

Humam S Chudori, dalam perspektif budaya lebih menyoroti mengenai etika atau moral. Modernisasi akan menjadi virus berbahaya jika pembaruan dan kemajuan justru merusak nilai-nilai luhur kebudayaan. Ia juga merasa kesal dan kecewa ketika kata budaya sering disalahartikan. Pada dasarnya kebudayaan itu untuk membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lain.

“Nyontek di kalangan pelajar disebut budaya. Begitu juga korupsi disebut budaya,” ucap Humam dalam nada kecewa.

Kegiatan yang mengusung tema “Merumuskan Identitas Budaya Kota Tangerang Selatan” ini dihadiri para pelaku seni dan budayawan Tangerang Selatan (Tangsel).

Sementara itu, Ketua DKTS H. Shobir Poer secara tegas menyatakan pentingnya budaya literasi. Menurutnya, literasi adalah proses akal, berpikir untuk membaca dan menulis yang dilakukan secara terus-menerus.

“Dari standar UNESCO yang mengharuskan membaca tujuh judul buku setahun, hasil penelitian tahun 2006-2010, dari 65 negara, Indonesia menempati urutan ke-57. Bahkan di tahun 2012, Indonesia berada di posisi ke-64 dari 65 negara,” ujar H. Shobir Poer.

Untuk meningkatkan minat membaca dan menulis agar budaya literasi di Kota Tangsel tidak rendah, harus dilakukan pembentukan wadah-wadah atau komunitas-komunitas yang membuka ruang diskusi, ruang membaca dan menulis.

“Budaya literasi di Kota Tangsel mulai tampak nyata yakni dengan munculnya kantong-kantong atau komunitas-komunitas budaya yang aktif. Seperti Komunitas Sastra Indonesia (KSI) cabang Tangsel, Pemuda Pelajar Islam (PPI), Sarang Matahari Penggiat Sastra, dan komunitas-komunitas literasi di kampus-kampus yang ada di Kota Tangsel,” pungkas H. Shobir Poer. Ia berharap munculnya komunitas-komunitas tersebut bisa menjadi pilar kearifan lokal Kota Tangsel di masa mendatang.(R)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *