Pringadi: Paham Komunis adalah Masa Lalu

IMG00087-20160508-1741

JAKARTA (Tangselone) – Asian Leiteraty Festival (ALF) 2016 kembali berhelat. Acara sastra yang dimulai sejak 5 Mei dan berakhir pada 8 Mei 2016 dan diadakan di Taman Ismail Marzuki ini mengundang banyak penulis dari dalam negeri pun dari luar negeri. Salah satunya adalah Pringadi Abdi Surya. Lelaki yang lahir di Palembang, 18 Agustus 1988 ini menjadi pemandu dalam beberapa rangkaian kegiatan di ALF.

Menurutnya, acara besar seperti ALF ini menjadi sangat penting dan harus terus dilakukan karena dapat kembali memperbaharui sejarah yang ada pada saat lampau dan masa kini. Ia menekankan bahwa perlunya peran sastra dalam mengangkat suara-suara yang dibungkam oleh masa lalu, dan dibicarakan saat ini sebagai jembatan pembaharuan.

“Sastra itu membuat orang membaca dan mendengar suara-suara yang dibisukan,” ujarnya kepada Tangselone.com disela-sela rehat.

Disinggung perihal adanya demo dari beberapa pihak pada acara ALF beberapa saat sebelum acara dimulai menyangkut tema yang diangkat ALF kali ini seperti ingin menghidupkan PKI, paham komunisme, dan tema LGBT ia berpendapat bahwa, PKI itu di Indonesia sudah mati. Sedangkan paham komunis adalah masa lalu.

“Sedangkan LGBT sendiri, saya lebih melihatnya sebagai begaimana kita bersikap. Bukan untuk menghakimi dan membuly mereka. Saya sendiri secara pribadi anti GLBT,” ujarnya di teater besar, Taman Ismail Marzuki, Miunggu, (08/05/2016).

Asian Literaty Festival ditutup dengan beberapa rangkaian penampilan seperti musikalisasi puisi oleh Oppie, pembacaan cerpen Oleh Gunawan Maryanto, serta pemberian penghargaan kepada penulis Mestro Budi Darma, dengan dicetaknya kembali buku kumpulan cerpennya yang berjudul Orang-Orang Bloomington.

PILO POLY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *