Kumpulan Cerpen Orang-Orang Bloomington Mendapat Penghargaan dari Asian Literary Festival

_Upload_BudiDarma_zpsk7vumvzd

JAKARTA (Tangselone) – Kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington kembali dicetak ulang oleh salah satu penerbit di Indonesia. Cetakan buku kumpulan cerpen ini sebagai bentuk penghargaan kepada penulis yang masuk dalam katagori banyak mempengaruhi pembaca seperti yang diujarkan oleh Okky Madasari sesaat sebelum Budi Darma, penulis buku kumpulan cerpen ini menaiki podium untuk memberikan sepatah dua kata.

Dalam orasi singkat itu, Budi Darma menuturkan bahwa ia merasa tidak pantas mendapatkan penghargaan yang diberikan padanya oleh Asian Literaty Festival. Ia berpendapat masih banyak cerpenis lain yang lebih bagus dan menarik yang bisa diberikan penghargaan.

“Menurut Mbak Okky tadi, saya diberi penghormatan. Sebetulnya di dalam hati kecil saya, saya merasa tidak sepatutnya mendapatkan kehormatan ini karena banyak sastrawan-sastrawan lain yang karya-larnya lebih bagus dan mempunyai pengaruh pada generasi berikutnya,” ujarnya di hadapan para hadirin.

Ia juga mempertanyakan perihal apakah betul apa yang disampaikan oleh Okky Madasari di hadapan para hadirin bahwa bukan hanya malam ini, tapi bebeberapa waktu yang lalu bahwa karyanya mempunyai pengaruh atau inspirasi pada generasi-genarasi lebih muda.

“Ya terus terang saya meragukannya. Namun saya mempunyai harapan agar generasi saat ini lebih baik dari pada sebelumnya,” lanjutnya yang disertai gemuruh tawa itu.

Selain itu, penulis yang lahir di Rembang 79 tahun ini mengakui bahwa sampai dengan saat ini ia masih mengikuti perkembangan sastra. Ia mengatakan, banyak karya-karya baik yang ditulis oleh anak-anak muda di Indonesia. Untuk itu, ia berharap akan keoptimisan bangsa ini dalam menghadapi masa depan sastra di tanah air.

“Festival semacam ini sangat penting. Karena dengan adanya Festival semacam ini maka antar pengarang dari berbagai negara bisa bertemu, saling mengenal dan bertukar pikiran,” lanjutnya.

Sebagai penutup, ia berpesan kepada penulis masa kini agar jangan seperti dirinya yang malas mencari penerbit dan tidak punya niat untuk menerbitkan buku-buku yang yang telah ditulis.

“Jadi kesalahan ini, kemalasan ini, jangan menjangkiti generasi muda. Generasi muda harus lebih agresif, harus lebih aktif dalam mencari pemasaran, penerbitan, dsb.” tutupnya.

Sebagaimana kita ketahui, Budi Darma telah dinyatakan sebagai salah satu warga berprestasi dibidang kesusasteraan selama 2 pesiode dari 1978 dan 1988 oleh Walikotamadya Surabaya. Novelnya yang berjudul Olenka (1983) juga meraup Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Roman DKJ pada tahun 1980, sekaligus memperoleh Hadiah Sastra DKJ 1983.

Penghargaan lain yang juga diberikan pada putra keempat dari enam bersaudara ini antara lain Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta, SEA Write Awards, dan Anugerah Seni Pemerintah RI. Sebagai seorang akademisi ia sering diundang untuk memberi ceramah, mengajar, menguji calon-calon sarjana atau doktor-doktor sastra, di dalam dan luar negeri.

Ia juga acapkali memenuhi undangan untuk penelitian, khususnya mengenai sastra Inggris dan Amerika. Di tengah banyak kesibukan tersebut, Budi Darma juga tercatat sebagai Chief Editor Modern Literature of ASEAN terbitan COCI (Committee on Cultural Information) ASEAN, 2000.

Pada Tahun 1984, Budi Darma menerima Hadiah Sastra ASEAN.

PILO POLY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *