Catatan Workshop Seni Rupa 2016

12342447_1000623006642960_264632124461694224_n

Oleh: Arie Siswana, adalah perupa. Tinggal di Banten.

Menikmati suasana kebersamaan di antara teman-teman Perupa dalam “Workshop Seni Rupa 2016, Cilegon-Banten” pekan lalu, bagi saya merupakan kebahagiaan tersendiri. Apalagi kegiatan diskusi seperti ini masih begitu jarang dilakukan. Karena ini bukan sekedar temu fikir atau saling tukar pandang tentang visi dan misi berkesenian semata. Namun merupakan jalinan persahabatan yang nantinya diharapkan menjadi kelompok kesenian yang bekerjasama dalam meningkatkan gairah berkreativitas di kalangan masyarakat seni. Kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata dan Budaya bidang Kesenian Propinsi Banten ini, diselenggarakan selama dua hari, tanggal 21 s.d 22-Maret 2016. Dengan menghadirkan Dua orang narasumber.

Secara keseluruhan, materi yang disampaikan oleh kedua narasumber sangat komprehensif, berkaitan dengan situasi ambigu yang belakangan mengungkung gerak lingkup Dunia Seni Rupa di Banten. Soal-soal seperti, sepinya pengunjung di tiap even pameran Seni rupa, dan pemasaran hasil karya para Perupa yang cenderung ditanggapi pasif, terurai lepas di tiap segmen.

Diskusi yang disertai segmen tanya jawab selama kegiatan berlangsung memunculkan beberapa gagasan yang membuka paradigma baru mengenai pentingnya menciptakan “Pasar Dalam Dinamika Seni Rupa” yang menjadi tema pada seasson pertama ini. Seperti yang telah dijelaskan oleh Halim HD selaku narasumber, ia mengatakan; pentingnya membangun jaringan antar komunitas Seni sebagai faktor penunjang terjadinya kelompok kesenian yang produktif. Dalam hal ini ia menyoroti perihal keberadaan Taman Budaya dan fungsinya. Bahwasanya “Taman Budaya sepatutnya menjadi Laborasi dan bersifat Konservasi, bagi komunitas kesenian di Banten.”

Pemahaman saya tentang ini, Taman Budaya adalah bangunan infstruktur dapat menjadi faktor utama terciptanya “pasar” dalam bidang Seni Rupa tidak hanya berfungsi sebagai “playground” bagi masyarakat pada umumnya, namun juga berfungsi taktis menjadi ruang dialog bagi para pekerja seni, untuk menyelenggarakan kajian-kajian kesenian hingga melahirkan pemikiran pemikiran strategis dengan melibatkan fihak pengelola. Sehingga tercipta kelompok kerja kesenian yang lebih produktif.

Sebagai ruang publik bagi kerja-kerja kesenian nantinya, Taman Budaya juga tidak hanya berorientasi pada kwantitas karya-karya seni yang baku, namun juga menampilkan karya-karya yang lebih mengembangkan sisi lain yang mendukung dari sebuah objektivitas yang divisualisasikan baik melaui karya Seni Rupa, seni teater, seni tari dan lain-lain. Kerja kolektif ini jelas membutuhkan campur tangan pemerintah daerah melalui instansi terkait, yang menjadi fasilitator bagi berlangsungnya kegiatan berkesenian.

Terkait dengan ini, kita tahu, lembaga mitra pemerintah yang khusus membidangi kesenian, yakni Dewan Kesenian Banten (DKB), telah mengajukan SEMBILAN PERMINTAAN KEPADA GUBERNUR BANTEN, dan itu menjadi agenda utama dalam memulai langkah kerja DKB. Bagai gayung bersambut, hasrat para seniman ini mendapat respon positif dari sang Gubernur, walau baru separuhnya yang terealisasi. Sejalan dengan apa yang di ungkapkan Halim HD, DKB pun menyoal fungsi Taman Budaya menjadi semacam Forum Temu Komunitas Seni Banten. Forum itu sekaligus menjadi media sosialisasi dan konsolidasi agenda-agenda Dewan Kesenian Banten dan Masyarakat Kesenian Banten.

Apa yang disampaikan oleh narasumber berjalan seiring dengan agenda kerja yang digulirkan DKB, menurut saya bukan sekedar korelasi. Namun lebih nampak sebagai kesamaan visi untuk lebih menghidupkan sel-sel kegiatan kesenian di Banten.

Lain halnya dengan Kuss Indarto yang mengisi materi dengan tema “Peran Kurator dalam Dinamika Seni Rupa”, dalam penjelasannya, ia lebih menekankan kepada kerja kreatif para seniman. Dalam banyak hal, Kuss berpendapat, perubahan kondisi Pasar dalam Seni Rupa diawali oleh gerak kreatif para pelakunya. Season hari pertama ini diikuti dengan khidmat oleh para peserta, gerimis yang mengiringi menambah syahdu suasana, hingga pada pkl: 22.00, panitia menutup acara ini.

Kedatangan rombongan peserta Workshop Seni rupa 2016 di Banten ke Museum UPH, merupakan rangkaian kegiatan yang sudah diagendakan pada hari ke-2 kegiatan ini. Setelah menikmati beberapa karya lukis dari para perupa ternama Indonesia, kami diterima Direktur pengelola Museum yang terletak di kawasan Lippo Karawaci tersebut. Menurut Amir Sidhartake yang juga pemilik Sidharta Auctioneer ini, semestinya para Perupa menjalini komunikasi yang baik dengan fihak Galeri, untuk keberlangsungan pasar dalam Seni Rupa yang sesuai dengan keinginan pangsa pasar atau peminat karya seni rupa dalam hal ini para kolektor. Diungkapkan oleh Amir Sidharta, keberadaan galeri juga menjadi faktor penyebab terjadinya transaksi dalam pasar di bidang Seni Rupa.

Editor: iman sembada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *