Tidak Lupa Dari Mana Proses Kreatif Berawal

images (1)

Bersama adikku PUTRA GARA yang biasa kupanggil Gara. Lelaki yang hangat, rendah hati, sederhana, smart, kreatif, multi kompetensi dan profesi; penulis, novelis, pelukis, wartawan dan motivator. Segala daya hidup tak ada yang luput dari jangkauannya. Lelaki yang sejak kecil — sejak masih pakai celena pendek berwarna biru, seragam Sekolah Menengah Pertama (SMP), yang aku kenal aktif, kreatif dan produktif.

Ada bagian yang aku suka dari adikku ini (meski dia belum tentu punya perasaan serupa). Dia tidak pernah lupa dari mana asal, darimana proses kreatif berawal (Bukan jenis kacang yang lupa kulitnya). Salah satu tempat ia berproses adalah di “markas” kami di jalan Melati Raya BS. 39 No.32 Perumahan Kranggan Permai Jatisampurna Bekasi (Kawasan Pengembangan Cibubur), yang kini bernama SANGGAR HUMANIORA (Humaniora Foundation).

Satu hal yang paling berkesan dari sejuta kesan adalah, ketika aku tugaskan dia memasak nasi. Karena asyiknya masuk dalam ruang imajinasi (menulis cerita pendek – masa itu masih menggunakan mesik ketik), dia lupa tugasnya masak, sampai nasi gosong dan panci pun bolong.

Saya bersyukur ia terus bertumbuh menjadi sesuatu yang membanggakan (diam-diam jangan sampai testimoni ini dibacanya – Sumpah sejak dulu aku tak pernah memuji dia!). Sosoknya yang sangat inspiratif, motivatif dan educated. Betapa tidak! karya-karya secara konkret menginspirasi serta menjadi perbincangan khalayak.

Sejak dulu – Gara kecil yang dulu sering aku bonceng naik sepeda motor dengan wajahnya yang pucat pasi ketakutan — karena aku tak pernah pelan memacu kenderaan bila sudah menunggang sadle motor (130km/jam). Dia sering ikut aku dan mungkin menyimpan jejak rekam kenakalan dan kegenitanku (kreatif : maksudnya). Ia sudah aktif membuat tulisan dan kartun untuk mengisi halaman koran-koran mingguan di Jakarta.

Prestasi dan aktivitasnya progresif. Selain tetap menulis dan melukis, ia sempat dipercaya menjadi Redaktur dan bahkan Pemimpin Redaksi sebuah majalah remaja. Dari capaian dan konsistensi skill ini ia pun kerap diundang sebagai narasumber di berbagai kegiatan seminar, workshop dan pelatihan seputar proses kreatif kepenulisan.

Beberapa buku karyanya, baik fiksi maupun non fiksi, diantaranya adalah; serial buku anak “Dita Anak Baru”, “Dita Penyiar” (Mega Media/1997), “Nasyid Mania” (Studia Press/2000), “Banyak Jalan Menuju Kesempatan” (Studia Press/2001), kumpulan artikel “Wanita Di Persipangan Zaman” (Studia Press/2000), “Cinta Semusim” (Kumpulan Cerpen/2006/Cipta Media), “Di Bawah Hujan” (Kumpulan Cerpen/2006/Cipta Media), “Cinta Di Antara Dua Pria” (2009/Universal Nikko), “Suker” (2012/Universal Nikko), “Penulis Hebat Menciptakan Karakter” (Non Fiksi/Gramedia/2012).

Ia juga menulis novel-novel sejarah, diantaranya ; “Samudra Pasai” (Hikmah/Mizan Group), “Kesatria Khatulistiwa”, “Tahta Khatulistiwa” (Diva Press), “Nusantara Ras Segala Bangsa” (non fiksi/Noura/Mizan Group), “Warna Cinta Dyah Pitaloka”, “ACEH” (Kerajaan-Kerajaan yang Pernah Ada), “Perempuan Aceh” (Para Pejuang Tangguh Di Zamannya), “Laksamana Raja Di laut” (Senja Di Selat Malaka), “Putri Nahrisyah” (Kilau Di Negeri Pasai), “Putri Jeumpa” (Senja Di Djawa Dwipa) dan banyak lagi yang lainnya.

Ada bagian yang aku suka dari adikku ini (meski dia belum tentu punya perasaan serupa). Dia tidak pernah lupa dari mana asal, darimana proses kreatif berawal (Bukan jenis kacang yang lupa kulitnya). Dan malam ini (Selasa 21 Juli 2015), dia buktikan pulang ke rumahnya, ke rumah yang dulu tempatnya menanak nasi gosong dan panci bolong.

Kranggan Permai Cibubur — Selasa, 21 Juli 2015

[DOC PUTRA GARA | EDI KARSITO]




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *